Ciri Teks Editorial, Tujuan, Jenis, Struktur, Kebahasaan, dan Contohnya

Ciri Teks Editorial, Tujuan, Jenis, Struktur, Kebahasaan, dan Contohnya

Tutorilmu.id. Teks editorial adalah jenis teks dalam surat kabar yang berisi pendapat atau pandangan redaksi terhadap suatu peristiwa aktual yang sedang menjadi perbincangan publik.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, editorial adalah artikel dalam surat kabar atau majalah yang mengungkapkan pendirian editor atau pimpinan surat kabar (majalah) tersebut mengenai beberapa pokok masalah.

Secara sederhana, teks editorial merupakan opini atau pendapat yang redaksi sebuah media tulis terhadap isu aktual di masyarakat.
Maka opini yang  radaksi tulis ini dianggap sebagai pandangan resmi media terhadap suatu isu aktual.

Baca : Pengertian Teks, Jenis-jenis, dan Ciri-cirinya

isi teks editorial adalah menyikapi situasi yang berkembang di masyarakat luas. Adapun isu tersebut bisa berupa masalah ekonomi, sosial atau budaya, dan lain-lain yang biasanya mempunyai hubungan dengan politik.

Pengungkapan dalam teks ini harus dilengkapi dengan bukti, fakta, maupun alasan yang logis agar pembaca atau pendengar bisa menerimanya. Kemudian dalam teks editorial terdapat argumentasi yang menguatkan sikap penulis terhadap masalah yang berkembang dalam masyarakat.

Ciri-Ciri Teks Editorial

Adapun  ciri-ciri teks editorial adalah sebagai berikut.

1. Topik dalam tulisan teks editorial selalu hangat, yaitu sedang berkembang dan dibicarakan secara luas oleh masyarakat, bersifat aktual, dan faktual.

2. Bersifat sistematis dan logis.

3. Berisi opini atau pendapat yang bersifat argumentatif.

4.  Menarik untuk dibaca karena ditulis menggunakan kalimat yang singkat, padat, dan jelas.

Tujuan Teks Editorial

Secara umum teks editorial mempunyai dua tujuan, yakni:

1. Mengajak pembaca untuk ikut berpikir dalam masalah (isu/topik) yang sedang hangat terjadi di kehidupan sekitar.

2. Memberikan pandangan kepada pembaca terhadap isu yang sedang berkembang.

Jenis-Jenis Teks Editorial

Berdasarkan jenisnya teks editorial dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu interpretative editorial, controversial editorial, dan explanatory editorial. Berikut penjelasannya.

1. Interpretaive editorial

Editorial jenis ini bertujuan untuk menjelaskan isu dengan menyajikan fakta dan figur untuk memberikan pengetahuan.

2. Controversial editorial

Editorial jenis ini memiliki tujuan untuk meyakinkan pembaca pada keinginan atau menumbuhkan kepercayaan pembaca terhadap suatu isu. Dalam editorial ini biasanya pendapat yang berlawanan akan digambarkan lebih buruk.

3. Explantory editorial

Editorial jenis ini menyajikan masalah atau suatu isu agar dinilai oleh pembaca. Biasanya teks editorial ini bertujuan untuk mengidentifikasi suatu masalah dan membuka mata masayarakat untuk memperhatikan suatu isu.

Struktur Teks Editorial

Teks editorial memiliki struktur, sebagai berikut:

1. Pernyataan pendapat (thesis statement)

Pernyataan pendapat atau disebut juga tesis merupakan bagian yang mengemukakan topik yang akan disampaikan. Biasanya terdapat pada awal paragraf sebagai pembuka pembahasan.

2. Argumentasi (arguments)

Pada bagian ini, penulis menyampaikan fakta yang terjadi di lapangan dan mengomentari fakta tersebut berdasarkan sudut pandangnya. Tujuan argumentasi adalah untuk memengaruhi dan meyakinkan pembaca.

Penulis ingin agar segala sesuatu yang disampaikannya dibenarkan oleh pembaca sehingga pembaca pun mengikutinya. Argumentasi biasanya terdiri atas beberapa paragraf.

3. Pernyataan ulang pendapat (reiteration)

Bagian ini merupakan penutup opini yang berisi penegasan kembali tesis dan argumentasi agar pembaca makin yakin.

Kaidah Kebahasaan Teks Editorial

1.  Penggunaan kalimat retoris

Kalimat retoris adalah kalimat tanya yang tidak ditujukan untuk mendapat jawaban, tetapi ditujukan agar pembaca merenungkan masalah yang dipertanyakan. Kalimat retoris digunakan guna menggugah atau mengubah pandangan pembaca terhadap isu yang dibahas.

2. Menggunakan kata populer

Teks editorial ditulis menggunakan kata populer yang mudah dipahami oleh orang banyak.

3. Menggunakan kata ganti penunjuk

Kata ganti ini digunakan untuk merujuk pada waktu, tempat, peristiwa, atau hal lainnya yang menjadi fokus ulasan. Contohnya, penggunaan kata tersebut, itu, dan sebagainya.

4. Konjungsi

Untuk menata argumentasi, memperkuat argumentasi, menyatakan hubungan sebab akibat, dan menyatakan harapan.
Contoh konjungsi yang biasa digunakan adalah pertama, kedua, berikutnya, selanjutnya, bahkan, selain itu, lagi pula, justru, misalnya, padahal, agar, supaya, dan lain-lain.

5. Adverbia

Bertujuan supaya pembaca meyakini teks yang dibahas menggunakan kata keterangan.

Contoh; sering, biasanya, selalu, kadang-kadang, jarang, dan lain sebagainya.

6. Verba Material

Verba material merupaka kata kerja yang menunjukkan perbuatan fisik atau persitiwa.

Contohnya yakni membaca, menulis, memukul, dan sejenisnya.

7. Verba Relasional

Merupakan kata kerja yang menunjukkan hubungan intensitas (pengertian B adalah C) dan milik (mengandung pengertian B memiliki C).

8. Verbal Mental

Verba yang menerangkan persepsi (melihat, dan sebagainya), afeksi (kekhawatiran, dan lainnya), kognisi (mengerti, dan lainnya0

CONTOH

Mengawal Daya Beli

KADO kenaikan tarif atau harga tiap awal tahun tak terjadi pada 2018. Pemerintah memastikan tak ada kenakan tarif dasar listrik dan harga BBM pada Januari hingga Maret tahun depan. Tarif setrum sama dengan periode tiga bulan terakhir. Sedangkan harga eceran premium tetap Rp 6.550 per liter di wilayah Jawa, Madura, dan Bali, serta Rp 6.450 per liter di luar kawasan itu. Sedangkan harga solar Rp 5.150 per liter.

Keputusan tersebut tentu melegakan di tengah lesunya daya beli masyarakat yang sudah terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Masyarakat yang sudah terimpit pengeluaran rutin bulanan listrik dan BBM pun bisa mengalokasikan dananya untuk kebutuhan lain. Setidaknya untuk mengantisipasi bila kenaikan pendapatan pada tahun depan tidak signifikan.

Meski bagi masyarakat cukup melegakan, keputusan tersebut bagi PLN dan Pertamina tentu kurang menggembirakan. Sebab, itu berarti dua perusahaan energi pelat merah tersebut harus melakukan efisiensi untuk menutup potensi penerimaan dari kenaikan tarif listrik dan harga BBM. Dalam penjelasannya, PLN akan melakukan efisiensi di semua lini operasi. Mulai efisiensi pemeliharaan; penggunaan bahan bakar utama, yaitu BBM dan batu bara; hingga pemilihan kualitas bahan bakar. Pertamina juga akan mengubah model bisnis.

Tentu hal tersebut harus menjadi perhatian pemerintah lantaran posisi dua BUMN itu strategis. Jangan sampai kebijakan di satu sisi malah merugikan. Bisa jadi, dalam jangka panjang, operasional dan kondisi keuangan bakal terganggu. Pada tahap berikutnya, pasti berpengaruh pada APBN lantaran BUMN cukup signifikan menyumbang penerimaan pajak dan dividen.

Karena itu, diperlukan win-win solution bagaimana caranya tidak menaikkan tarif dan harga, tapi di sisi lain tetap menjaga kinerja BUMN. Dengan meracik kebijakan yang pas, beban masyarakat akan berkurang dan korporasi tetap diuntungkan.

Sumber : Jawa Pos

Demikian ulasan tentang ciri teks editorial, tujuan, jenis, struktur, kebahasaan, dan contohnya. Semoga bermanfaat.

 

Tinggalkan Balasan